Jakarta satu satunya kota metropolitan di Indonesia, kota dimana kita bisa menjadi apa saja yang kita inginkan, kota dimana tersedia semua kebutuhan hidup dan kota dimana kita bisa mendapatkan uang yang banyak. Setidaknya itu anggapan banyak orang yang mengadu nasibnya ke Jakarta, padahal Jakarta tidaklah seindah yang dibayangkan oleh orang yang datang kesini, ternyata Jakarta adalah kota dengan tingkat kriminal yang paling tinggi, kota dimana pengangguran paling banyak, kota dimana perumahan kumuh berserakan, kota dimana orang membunuh untuk mencari makan, kota dimana penyakit bebas berkeliaran diantara polusi yang ada.
Sepertinya yang saya akan bicarakan dalam postingan saya kali ini adalah tentang Jakarta, tidak salah Anda berpikir seperti itu karena memang pembukaan posting ini saya berbicara tentang kota Jakarta dan hiruk pikuknya. Tapi yang ingin saya bicarakan bukanlah kota Jakarta, tapi pemikiran orang yang sering berbeda dengan orang lainnya.
Ada orang yang menganggap kota Jakarta kota yang indah tetapi ada juga yang menganggap kota Jakarta adalah kota yang menyebalkan. Sebagai contoh saya akan memberikan pengalaman pribadi saya. Pastilah Anda penah mengendarai mobil di Jakarta, baik itu mengendarai mobil sendiri ataupun hanya ikut didalam mobil tersebut. Anda pastilah akrab dengan kemacetan yang pasti terjadi di Jakarta apalagi pada jam jam pulang kantor, makan siang ataupun buka puasa seperti bulan sekarang ini. Apa yang anda pikirkan ketika Anda terjebak didalam kemacetan yang luar biasa lalu melihat para pengendara motor yang dengan ringannya menembus kemacetan Jakarta ini?
"Wat de Hell, enak banget tuh motor bisa nyelip nyelip ga pake ngantri, coba gw juga naek motor pasti gw uda nyampe rumah daritadi!"
Mungkin itu salah satu kalimat yang pernah terlontar dibenak Anda, tapi apa Anda pernah berpikir sebenarnya para pengendara motor itu ingin menikmati kemacetan yang ada seperti yang Anda rasakan? Memang bukan sebal akan kemacetan yang ingin dinikmati, tapi kenyamanan dalam mengendarai mobil yang anda kendarai.
Sudah hampir 1 semester belakangan ini saya mengalami masalah dengan hidung saya, pertama tama berawal dari pilek yang tak kunjung sembuh, saya pikir ini hanya pilek biasa, tetapi ketika 2 minggu kemarin saya periksa kedokter ternyata saya divonis dokter menderita penyakit Sinus dan harus menjalani operasi!
"Shit always happen!" meskipun akhirnya keputusan dokter di Tasik itu salah dan saya hanya mengalami alergi pernafasan yang saya kesalkan adalah penyebab terjadinya alergi ini, yaitu udara Jakarta yang berpolusi!!
Coba Anda bayangkan sejenak, kenikmatan nyelip nyelip kendaraan menggunakan motor harus dibayar mahal dengan penyakit yang diderita si pengendara motor, sementara penderitaan kemacetan yang dialami pengendara mobil diimbangi dengan tidak menderitanya dia dengan alergi pernafasan dan penyakit penyakit lainnya yang menyertai para pengendara motor.
Lihat berapa terbaliknya anggapan yang dilontarkan oleh Anda ketika melihat pengendara motor yang dengan enaknya melintas didepan mobil Anda dikala kemacetan sedang terjadi. Coba pikirkan sejenak apa yang ingin saya angkat didalam postingan saya kali ini?
Yup, apabila anda memikirkan tentang perbedaan sudut pandang, Anda benar sekali! semua masalah yang terjadi, semua kesalah pahaman yang terjadi ada karena perbedaan sudut pandang diantara 2 orang yang berbeda.
Hari ini saya mengalami itu meskipun tidak sampai terjadi kesalah pahaman yang besar. Bermula ketika pulang Fitness saya menerima telepon dari seorang teman yang saya harap akan menjadi teman hidup saya pada akhirnya. Teman saya ini menanyakan keberadaan saya dimana, dan singkat cerita pembicaraan berakhir karena dia akan pergi dengan kakaknya sedangkan saya mengatakan tidak jadi makan dengan teman kos saya yang lama. Ketika saya menutup telepon ternyata datanglah seorang tukang nasgor yang dengan spontan saya memesan satu piring mie goreng, setelah menunggu hampir setengah jam akhirnya datanglah mie goreng yang saya pesan, lalu dengan santainya saya memakan mie tersebut sambil mengobrol dengan teman teman kos yang lama mengenai berbagai hal.
Apabila dilihat sepintas memang tidak ada masalah yang terjadi, yang menjadi masalah adalah dimana saya berpikir akan menghubungi teman saya setelah saya makan mie goreng tersebut. Saya berpikir seperti ini karena saya tidak mengetahui kondisi yang dialami oleh teman saya tersebut. Dalam sudut pandang saya berpikir teman saya tersebut sedang seru bercanda dengan kakaknya dan tidak mengapa saya terlambat sedikit memberitahukan keadaan saya kepadanya.
Sementara itu apa yang dialami teman saya tersebut berkebalikan dengan apa yang saya pikirkan saat itu, teman saya ini mencoba beberapa kali menelepon hp saya karena dia sedang boring menunggu kakak iparnya membeli keperluan wanita, sedangkan dia sendiri dalam keadaan kurang tidur, kehausan dengan punggung yang terasa menyakitkan ditambah lagi ke bete annya karena tidak bisa menghubungi hp saya.
Teman saya berpikir bahwa saya sedang berada entah dimana, tidak sedang makan dan yang pasti tidak berusaha menghubungi dia padahal keadaan saya memungkinkan untuk menghubungi dia secepatnya. Sangat tidak salah dia berpikir seperti ini dikarenakan saya pun lupa memberitahukan bahwa saya sedang makan mie goreng dan didalam hp sayapun tidak terdapat satu kalipun panggilan tidak terjawab.
Yup bisa anda bayangkan yang terjadi apabila tidak ada salah seorangpun yang mengalah dan mencoba menjelaskan sudut pandang yang saya lihat dan bagaimana keadaan saya saat itu, bagimana juga bila teman saya itu tidak bisa menerima penjelasan saya karena sudut pandang yang dia lihat berbeda dengan saya? Pastilah kesalah pahaman yang kecil ini bisa menjadi besar dan berakibat memburuknya hubungan yang sudah dijalin selama ini. Karena adanya komunikasi maka sudut pandang yang berbeda bisa disatukan, karena adanya komunikasi pula hubungan yang rusak bisa dipulihkan.
Terimakasih Tuhan buat teman yang Engkau kirimkan buatku, memang ada saja hal yang tidak sesuai harapan terjadi didalam hubungan ini, tetapi yang saya yakin ini adalah rencanaMu buat kehidupanku.
-PeTeR-
Jumat, 05 September 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar